Kebahagiaan bukanlah obat yang bisa
dibeli di apotek lalu diminum dan kemudian dapat menyembuhkan penderitaan. Akan
tetapi, ia memiliki beberapa sebab dan jalan, yang jika ditempuh oleh
seseorang, maka orang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan. Dan jika ia
menyeleweng dari jalan tersebut, maka ia tidak akan bisa mencapainya.
Sebagaimana manusia yang membutuhkan
obat saat ia sakit, begitu juga dengan mereka yang menginginkan kebahagiaan.
Tentu ia juga memerlukan sebab-sebab untuk meraihnya, menempuh jalan menuju
kepadanya, memahami sarana-sarana dan rukun-rukunnya, merealisasikannya, dan
mengamalkannya. Sehingga akhirnya ia selamat dari kesusahan dan penderitaan
yang menimpanya.
Setidaknya ada 3 solusi yang ditawarkan
oleh agama ini agar kehidupan yang dijalani oleh seorang muslim dipenuhi dengan
kebahagiaan, yaitu: (1) tawakal, (2) membahagiakan orang lain, dan (3) hati
yang bersih.
Tawakal kunci utama hidup bahagia
Kebahagiaan ada pada ketaatan kepada Allah Ta’ala dan penderitaan ada
karena kemaksiatan kepada-Nya. Di antara ketaatan yang akan membahagiakan dan
menyelamatkan seorang muslim adalah bertawakal kepada Allah, menyerahkan diri
kepada-Nya, serta percaya sepenuh hati dengan keputusan-Nya. Di mana Allah
Ta’ala berjanji akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan yang
dihadapinya, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah
Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا
ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ
قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah,
niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberinya
rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal
kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap
sesuatu.” (QS. At-Talaq: 2-3)
Bagaimana tidak? Orang jika bertawakal,
maka ia akan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah di dalam meraih
kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik dalam urusan dunia maupun urusan
akhirat. Ia yakin bahwa Allahlah satu-satunya yang dapat memberi kebahagiaan
untuk seseorang dan Allah jugalah yang berhak mengangkat kebahagiaan tersebut
darinya. Sehingga ia tidak akan pernah menyesali apa pun yang Allah Ta’ala
takdirkan kepadanya.
Rasa tawakal dan berserah diri yang
benar tidak meniadakan usaha yang dikerahkan di dalam menjalankan sebab-sebab
keberhasilan dan kebahagiaan. Justru merupakan tawakal yang salah jika hanya
berpangku tangan dan bermalas-malasan. Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ
أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ
فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Berkatalah dua orang di antara
orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas
keduanya, ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila
kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah, hendaknya
kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah:
23)
Di dalam Tafsir Al-Muyassar terbitan
Kemenag Saudi disebutkan bahwa penyerbuan melalui pintu gerbang merupakan salah
satu bentuk ikhtiar/usaha agar mereka dimenangkan oleh Allah Ta’ala. Kemenangan
tersebut tidak akan bisa diraih jika mereka hanya pasrah dan tidak bergerak.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga
pernah bersabda,
لو أنَّكم كنتُم توَكلونَ علَى اللهِ حقَّ
توَكلِه لرزقتُم كما يرزقُ الطَّيرُ تغدو خماصًا وتروحُ بطانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada
Allah dengan sebenar-benar tawakal, maka Allah akan memberi rezeki kalian sebagaimana Allah memberi rezeki
burung. Pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ahmad no. 604)
Hal ini menunjukkan bahwa tawakal
maknanya bukan pasrah dan meninggalkan sebab. Akan tetapi, tawakal harus
disertai dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang
diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dari Allah berupa makanan dan
rasa kenyang setelah ia berusaha dan melakukan sebab-sebab untuk meraihnya.
Tawakal mengarahkan seseorang kepada
kebahagiaan dari beberapa sisi:
Pertama: Tawakal merupakan salah satu
sebab mendapatkan pahala, dan pahala yang diraih merupakan sebab kebahagiaan.
Kedua: Tawakal menjadikan seseorang
hanya menyandarkan dirinya kepada Allah, bukan manusia. Sehingga ia tidak
mengharapkan apa pun yang ada di tangan manusia. Jikalau ia menginginkan
sesuatu, maka ia hanya meminta kepada Allah Ta’ala.
Ketiga: Tawakal akan mendatangkan
rezeki, sebagaimana kisah burung yang telah disebutkan dalam hadis di atas.
Keempat: Kalaupun tawakal tidak
memiliki keutamaan, kecuali mendapatkan pengakuan cinta dari Allah Ta’ala, maka
itu sungguh sangat mencukupi. Allah Ta’ala berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Sungguh, Allah mencintai orang yang
bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)
Baca Juga: Mengapa Aku Tidak Bahagia?
Membahagiakan orang lain, mendatangkan
kebahagiaan untuk diri sendiri
Sungguh kebahagiaan ini tidak dapat
dirasakan, kecuali oleh mereka yang sudah melakukannya. Membahagiakan orang
lain memiliki berbagai macam sarana dan bentuk. Ada yang bersifat materi, seperti memberikan
bantuan untuk orang fakir, ataupun yang bersifat maknawi, seperti mendamaikan
dua orang yang sedang berselisih ataupun menasehati orang lain.
Di antara bentuk membahagiakan orang
lain yang paling mulia adalah meringankan beban dan kesulitan yang sedang
mereka hadapi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ
كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ،
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ
“Barangsiapa yang menghilangkan satu
kesulitan seorang mukmin yang lain dari kesulitannya di dunia, niscaya Allah
akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang
meringankan orang yang kesusahan (dalam utangnya), niscaya Allah akan
meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim no. 2699)
Sedangkan bentuk ‘sedekah’ dan membantu
orang lain yang paling utama adalah mengajarkan ilmu agama. Sahabat Nabi Muadz
bin Jabal pernah berkata,
تعلموا العلم ، فإن تعلمَه للهِ خشيةٌ ، وطلَبه
عبادةٌ ، ومذاكرتَه تسبيحٌ ، والبحثَ عنه جهادٌ ، وتعليمَه لمن لا يعلمه صدقةٌ
“Belajarlah kalian ilmu agama, sungguh
mempelajarinya karena Allah mendatangkan rasa takut kepada-Nya, mencari dan
mempelajarinya adalah ibadah, mengulangi dan mengingat-ingatnya adalah salah
bentuk zikir, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak
mengetahuinya adalah sedekah.” (Madariju As-Salikiin karya Ibnul Qayyim, 4:
134)
Hati yang bersih dari balas dendam dan
kedengkian
Kebahagiaan yang hakiki (yaitu
kebahagiaan di akhirat nanti) tidak diperuntukkan, kecuali untuk mereka yang
memilik hati yang bersih. Allah Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ
ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ
“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan
anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati
yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)
Seorang muslim tentunya harus
bersemangat untuk menyucikan hatinya dari segala macam penyakit dan apa-apa
yang mengotorinya, baik itu rasa sombong, kebencian, maupun rasa iri dan dengki
kepada yang lain. Karena bersihnya hati merupakan ciri-ciri penduduk surga yang
Allah Ta’ala kisahkan di dalam Al-Qur’an,
وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ
تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا
لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ
“Dan Kami cabut segala macam dendam
yang berada di dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan
mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah, yang telah menunjuki kami kepada
(surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah
tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 43)
Sungguh tidak ada yang lebih berbahagia
dari orang yang ikut senang ketika saudaranya sedang mendapatkan kebaikan dan
kenikmatan, ikut bahagia ketika mereka bahagia. Dan tidak ada yang lebih
menderita dari orang yang mudah sekali merasa hasad (iri dan dengki) dengan
saudaranya, sampai-sampai ia berharap agar kenikmatan tersebut hilang dan sirna
dari orang yang mendapatkannya. Sungguh keduanya adalah kondisi yang berbeda,
semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari keburukan perasaan hasad terhadap
orang lain.
Karena hasad sejatinya menghilangkan
kebahagiaan serta mengurangi kesempurnaan iman. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam pernah bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ
مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Salah seorang di antara kalian
tidaklah akan beriman dengan sempurna hingga menginginkan untuk saudaranya
hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan
Muslim no. 45)
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang selalu bertawakal kepada-Nya dalam setiap urusan, menjadikan kita termasuk orang yang mudah membahagiakan orang dengan apapun yang kita mampu, dan semoga Allah Ta’ala membersihkan diri kita dari segala macam penyakit hati yang dapat merusaknya. Amiin ya Rabbal Aalamiin.
Berikut adalah beberapa tips kunci untuk menjalani hidup
yang bahagia:
1.
Temukan makna dalam hidup: Cari tahu apa yang
membuat hidup Anda berarti dan memberikan tujuan pada hidup Anda. Dengan
mengetahui apa yang penting bagi Anda, Anda akan lebih mudah untuk mengatasi
rintangan dan memotivasi diri Anda.
2.
Bersyukur: Belajarlah untuk mensyukuri segala
hal baik dan buruk dalam hidup Anda. Berfokus pada apa yang Anda miliki dan
bukan apa yang Anda tidak miliki, akan membantu Anda merasa lebih bahagia.
3.
Berbuat baik: Menolong orang lain atau melakukan
kebaikan tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri.
Ketika kita membantu orang lain, kita merasa lebih berguna dan berarti.
4.
Mencari keseimbangan: Menjaga keseimbangan
antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan waktu untuk diri sendiri akan membantu
Anda merasa lebih bahagia dan puas dengan hidup Anda.
5.
Jangan membandingkan diri dengan orang lain:
Terkadang kita cenderung membandingkan diri kita dengan orang lain, yang dapat
membuat kita merasa tidak memadai atau tidak berharga. Ingatlah bahwa setiap
orang memiliki perjalanan hidup dan keunikan masing-masing.
6.
Menjaga kesehatan: Menjaga kesehatan fisik dan
mental Anda sangat penting untuk hidup yang bahagia. Melakukan olahraga, tidur
yang cukup, dan makan makanan yang sehat akan membantu Anda merasa lebih baik
dan lebih bahagia.
7.
Terus belajar dan berkembang: Terus mencari
pengetahuan dan pengalaman baru dapat membantu Anda merasa lebih puas dengan
hidup Anda dan memberikan Anda kesempatan untuk berkembang dan tumbuh.
8.
Menjalin hubungan yang baik dengan orang lain:
Menjalin hubungan yang baik dengan keluarga, teman, atau pasangan dapat
memberikan dukungan emosional dan membuat hidup Anda lebih bahagia dan
bermakna.
Dengan menerapkan tips-tips di atas, Anda dapat meraih kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup Anda.